2014-12-20

[PUISI] MENGUJUNG CEMARA



 MENGUJUNG CEMARA
 Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa
(dimuat di salah satu koran regional)

Satu, dua, tiga
Cemara itu menusuk langit
Gapaiannya tiada peduli rintang
Julangannya seperti pedang
Tembus rimbun gesekan udara
Hijau lembut warnai indera
Sungguh berani, betapa berarti
Karena manusia perlu menapak
Tuk lakukan yang termanis
Tatap ke atas dengan buas
Perlahan ke puncak sangat ikhlas
Widya bakti junjung jati diri
Suburkan tanah Nusantara ini
Lambungkan harga diri Tanah Pusaka
Bukti kita Tunas Negeri

2014-11-07

[PUISI] KOTEKAN SINGA

 
KOTEKAN SINGA
Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa


Kata siapa singa Si Raja Hutan?
Besar badan pun gajah pemenangnya
Kata siapa singa Si Raja Hutan?
Auman auman auman auman, bah
Kata siapa singa Si Raja Hutan?
Taring tajam gigit mangsa saja
Kata siapa singa Si Raja Hutan?
Melayang melesat melaju s'lalu mengancam

Siapa yang kuat, dia yang menang
Zaman tak lagi konstan, huh?
Siapa yang hebat, di yang menang
Zaman t'lah songsong pintar, hah?

Pandai bicara hipnotis khalayak?
Omong
Kosong
Kosong
Omong
Pandai bicara tuntun ke cahaya, Bung!

2014-10-03

[PUISI] JEJAK TAK BERTAPAK


JEJAK TAK BERTAPAK
Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa

Merahku telah padam
Seakan memang tak pernah ada
Hanya fiktif belaka
Kala hanya dusta semata
Bisuku pun mengabur
Kalut sejenak seluruh warna
Warnaku senjataku
Penguat sekaligus pelemah
Dan kuning tiada terpahat
Jejak itu tak bertapak
Berat gajah tak jua berada
Angin telah menghembus
Kabur sudah titik injak
Pun tiada lagi peduli rupanya
Saat warna ternyata mitos
Saat mereka tak paham etos
Ya, jejak itu tak lagi bertapak

2014-09-13

[PUISI] CAHAYA


CAHAYA
Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa

Cahaya di balik ufuk hitam
Cahaya itu di penghujung pandang
Namun jemari ini terasa hangat
Layak genggam berkas panjang
Tiada muncul namun merangkul
Akankah cahaya itu berkhianat
Goyahkan pagar t'lah berlalu
Buang ingatan kelabu
Lupakan yang dilalu
Biarkan terbawa titik pekat
Tinggal kenangan menjadi angan
Lepas hempas genggaman tangan
Tiada tahu harus berbuat
Inilah sebuah cahaya
Dalam lembar indah buaya
Inilah sebuah pilu
Dalam guratan indah syahdu