2014-09-13

[PUISI] CAHAYA


CAHAYA
Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa

Cahaya di balik ufuk hitam
Cahaya itu di penghujung pandang
Namun jemari ini terasa hangat
Layak genggam berkas panjang
Tiada muncul namun merangkul
Akankah cahaya itu berkhianat
Goyahkan pagar t'lah berlalu
Buang ingatan kelabu
Lupakan yang dilalu
Biarkan terbawa titik pekat
Tinggal kenangan menjadi angan
Lepas hempas genggaman tangan
Tiada tahu harus berbuat
Inilah sebuah cahaya
Dalam lembar indah buaya
Inilah sebuah pilu
Dalam guratan indah syahdu

2014-04-21

Butiran Pilu



BUTIRAN PILU

Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa



Dulu Engkau belia

Hari-hari merajut asa

Langkah pasti merah merona

Sayup-sayup kudengar harap pinta

Memandangmu sungguh berharga

Kan kudorong Engkau ke haluan

Kilau indah hingga kemerlap cerah

Tiada hirau ‘kan selalu berpetuah



Kamuflase detik hingga menit

Harap ini adalah Engkau, tertanam lekat

Semampuku takkan biarkan Engkau tertodong

Semampuku takkan izinkan luka memerosok

Jiwa ini berpangku kuat tekad di raga



Masamu kian berkembang

Masaku kian berkurang

Biarkan kulihat topi hitam bertali hiasi kepalamu

Biarlah kulihat kemapanan menimpamu selepasku

Biar segala jerih menjadi gurih

Biar segala pekat menjadi kuat


2014-04-14

[LYRIC] Taeyeon - Set Me Free



TAEYEON - SET ME FREE
Romanization + English Translation

mundeug tteoollineun geon
The thing I suddenly remembered
neomanui miso
was your smile  
jakku jiuryeogo aesseodo
I keep trying to erase it  
seonmyeong hal ppuniya
but it just gets clearer

Love hamkke nanun su manhatdeon
Love All of the stories we shared  
yaegideul jinan il ingeol
together. Now they are in the past

Set me free, Let me be
Set me free, let me be 
nareul noha jwo jamshirado shwil su itge
Let me go so I can rest for a moment  
Set me free, Let me be
Set me free, let me be
igeon aniya babo cheoreom useumi heulleo
This isn’t  right, like a fool, I keep laughing

2014-04-03

Riwayat Si Aking


RIWAYAT SI AKING
Puisi karya Rahma Ayuningtyas Fachrunisa

Orang tua itu menyantap aking samarnya
Sungguh dinikmat, telan penuh senyum sulaman
Tiada peduli dahaga menancap
Penyangga perut itupuncukup
Si Anak tak begitu

Si Anak bertanya,
"Tak bisakah kita makan sesungguhnya nasi?"
Prihatin, Si Tua berkata,
"Inilah sesungguhnya nasi." 
Si Anak bingung termangu hentikan kecapan

"Ini nasi, keras, namun peduli."

Si Anak tatap nanar haus tanya 
Dengan apa ia sanggup memahami
Ia mendesah, seraya berkata,
"Tiada mengerti diri ini."


Si Tua mengibas senyum lebar
"Hendaknya kau mengerti, hendaknya kau tahu
Alangkah nikmat aking ini
Tiada tara Si Pembandingnya
Tiada duga Si Perasa
Mengapa tak kau coba tuk rasa?"

Si Anak pun tak puas jua
Makin bingung ia, Si Belia
Diketahuinya seonggok nasi bekal

Si Tua berkata lagi, 
"Aking ini simbol pemimpin hebat
Tajamkan penglihatanmu, pekakan perasaanmu."

Masih tiada mengerti, Si Kecil lagi bertanya,
"Sebuah aking yang patah rebah ini?"

Kau benar, Duhai Anakku.Ia hidup dalam gelimang kesederhanaan
Bukan jepitan kemeriahan
Berkecukupan namun tiada berlebihan
Mengemban amanahnya sebagai santapan
Meski kini tampak berbeda